Oleh
Tutut Herlina
Jakarta - Meski bangsa ini tengah terfokus pada agenda pemilu, kewaspadaan terhadap upaya pihak tertentu menjual kedaulatan negara harus mendapatkan perhatian serius.
Pasalnya, akhir-akhir ini, sejumlah pihak secara diam-diam berusaha membuat kembali laboratorium Naval Medical Research Unit (Namru)-2, kembali beroperasi di Indonesia. Padahal, keberadaan laboratorium itu sudah ditolak Menteri Kesehatan (Menkes) Fadillah Supari, karena dianggap merugikan kekayaan negara.
Juru Bicara Front Usir Namru-2 Agung Nugroho dalam diskusi publik di Jakarta, Selasa (28/4), mengatakan, keberadaan laboratorium Namru-2 harus ditolak karena telah mengancam jiwa rakyat Indonesia. Selama ini, laboratorium itu tak hanya meneliti penyakit menular yang ada di Indonesia, tetapi juga mengembangkan berbagai virus penyakit tanpa pengawasan dan pelaporan pada pemerintah Indonesia.
Berbagai penyakit menular yang berkembang di Indonesia dan pernah diteliti di laboratorium itu, antara lain penyakit cacar, polio, hepatitis, meningitis ensepalitis (radang otak), enterovirus (tangan, kaki, mulut), malaria, kaki gajah, dipteri, kolera, demam berdarah, antrax, TBC, HIV/AIDS, hingga flu burung.
Ia juga menyesalkan sikap pimpinan DPR dari Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Soetardjo Soerjogoeritno yang tidak nasionalis.. Tanpa memikirkan nasib rakyat, pada 19 Februari lalu, ia mengirim surat kepada menteri luar negeri yang isinya mengusulkan supaya laboratorium Namru-2 beroperasi kembali.
“Selaku Wakil Ketua DPR, lembaga yang katanya mewakili rakyat, ia juga meminta izin tinggal dan bekerja bagi para peneliti AS,” kata Sekjen Dewan Kesehatan Rakyat Jabodetabek itu.
Muhammad Ida Nasim dari Dewan Kebangkitan Islam menambahkan, pengiriman surat kepada menteri luar negeri itu menunjukkan tidak adanya keberpihakan kepada rakyat dan kedaulatan bangsa ini. Tindakan tersebut hanya demi kepentingan pemilik modal asing dan melanggengkan “penjajahan” di negeri ini.
Indro Tjahyono dari Sekretariat Perlindungan Hutan Indonesia (Skephi) menyata-kan, tindakan menjual kedaulatan bangsa itu menunjukkan telah terjadi krisis kepribadian bangsa ini.
“Begitu mudah kita menyerahkan segala sesuatu kepada asing. Namru statusnya itu pangkalan asing, tapi karena Indonesia tidak butuh maka menjadi pangkalan intelijen,” ujarnya.
Pengamat intelijen, Wawan H Purwanto, menyatakan, keberadaan Namru-2 secara fisik tidak membahayakan. Persoalan yang jauh lebih membahayakan negeri ini adalah banyaknya spesimen penyakit yang dibawa keluar negeri oleh para peneliti asing.
“Kami tidak bisa mengontrol setelah lolos. Kalau kami bisa membangun laboratorium yang lebih hebat, keberadaan Namru-2 itu nothing. Hasil beberapa kali penelitian, keberadaan dia di sini tidak bahaya.. Kalau mau kami kejar, yang di Los Alamos,” katanya. Ia mengusulkan, supaya pengawasan Namru-2 dikembalikan kepada TNI AL, sekalipun kerja samanya dilakukan oleh Departemen Kesehatan (Depkes).
Tutut Herlina
Jakarta - Meski bangsa ini tengah terfokus pada agenda pemilu, kewaspadaan terhadap upaya pihak tertentu menjual kedaulatan negara harus mendapatkan perhatian serius.
Pasalnya, akhir-akhir ini, sejumlah pihak secara diam-diam berusaha membuat kembali laboratorium Naval Medical Research Unit (Namru)-2, kembali beroperasi di Indonesia. Padahal, keberadaan laboratorium itu sudah ditolak Menteri Kesehatan (Menkes) Fadillah Supari, karena dianggap merugikan kekayaan negara.
Juru Bicara Front Usir Namru-2 Agung Nugroho dalam diskusi publik di Jakarta, Selasa (28/4), mengatakan, keberadaan laboratorium Namru-2 harus ditolak karena telah mengancam jiwa rakyat Indonesia. Selama ini, laboratorium itu tak hanya meneliti penyakit menular yang ada di Indonesia, tetapi juga mengembangkan berbagai virus penyakit tanpa pengawasan dan pelaporan pada pemerintah Indonesia.
Berbagai penyakit menular yang berkembang di Indonesia dan pernah diteliti di laboratorium itu, antara lain penyakit cacar, polio, hepatitis, meningitis ensepalitis (radang otak), enterovirus (tangan, kaki, mulut), malaria, kaki gajah, dipteri, kolera, demam berdarah, antrax, TBC, HIV/AIDS, hingga flu burung.
Ia juga menyesalkan sikap pimpinan DPR dari Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Soetardjo Soerjogoeritno yang tidak nasionalis.. Tanpa memikirkan nasib rakyat, pada 19 Februari lalu, ia mengirim surat kepada menteri luar negeri yang isinya mengusulkan supaya laboratorium Namru-2 beroperasi kembali.
“Selaku Wakil Ketua DPR, lembaga yang katanya mewakili rakyat, ia juga meminta izin tinggal dan bekerja bagi para peneliti AS,” kata Sekjen Dewan Kesehatan Rakyat Jabodetabek itu.
Muhammad Ida Nasim dari Dewan Kebangkitan Islam menambahkan, pengiriman surat kepada menteri luar negeri itu menunjukkan tidak adanya keberpihakan kepada rakyat dan kedaulatan bangsa ini. Tindakan tersebut hanya demi kepentingan pemilik modal asing dan melanggengkan “penjajahan” di negeri ini.
Indro Tjahyono dari Sekretariat Perlindungan Hutan Indonesia (Skephi) menyata-kan, tindakan menjual kedaulatan bangsa itu menunjukkan telah terjadi krisis kepribadian bangsa ini.
“Begitu mudah kita menyerahkan segala sesuatu kepada asing. Namru statusnya itu pangkalan asing, tapi karena Indonesia tidak butuh maka menjadi pangkalan intelijen,” ujarnya.
Pengamat intelijen, Wawan H Purwanto, menyatakan, keberadaan Namru-2 secara fisik tidak membahayakan. Persoalan yang jauh lebih membahayakan negeri ini adalah banyaknya spesimen penyakit yang dibawa keluar negeri oleh para peneliti asing.
“Kami tidak bisa mengontrol setelah lolos. Kalau kami bisa membangun laboratorium yang lebih hebat, keberadaan Namru-2 itu nothing. Hasil beberapa kali penelitian, keberadaan dia di sini tidak bahaya.. Kalau mau kami kejar, yang di Los Alamos,” katanya. Ia mengusulkan, supaya pengawasan Namru-2 dikembalikan kepada TNI AL, sekalipun kerja samanya dilakukan oleh Departemen Kesehatan (Depkes).

Tidak ada komentar:
Posting Komentar