SELAMAT DATANG DI BLOG KAMI !

SFUR, adalah organisasi yang didirikian oleh mantan pasien Pengguna JAMKESMAS, Gakin, dan SKTM. Nama Siti Fadillah digunakan sebagai simbol dan spirit perjuangan SFUR Dalam mempertahankan hak-hak rakyat miskin yang selama ini sudah didapat dan memperjuangkan hak-hak rakyat yang selama ini belum didapat. Siti Fadillah dengan ke konsistenannya membela rakyat miskin, adalah idola baru bagi kami yang juga menjadi pemimpin baru bagi kami rakyat miskin. Kegigihan beliau dalam melindungi rakyat, membuat beliau satu-satunya tokoh yang berani dan tegas terhadap penindasan pihak asing.
Bergabunglah juga di Facebook :sfurpeople@gmail.com dan groups Siti Fadillah Untuk Rakyat di :
http://www.facebook.com/group.php?v=app_2373072738&gid=200986556857#/group.php?gid=200986556857

Sabtu, 05 Desember 2009

Siti Fadilah Supari

Posted by iman under: BERBANGSA; TOKOH .

Selalu saja ada kekaguman terhadap orang orang yang peduli dengan masalah kebangsaan dan keadilan. Dunia dihebohkan Siti Fadilah Supari , seorang Menteri Kesehatan kita menjadi corong suara pemberontakan terhadap ketidakadilan Amerika dan WHO dalam masalah kebijakan kesehatan dunia.

Fadilah menuangkannya dalam bukunya yang baru baru ini diluncurkan, berjudul Saatnya Dunia Berubah! Tangan Tuhan di Balik Virus Flu Burung. Selain dalam edisi Bahasa Indonesia, ia juga meluncurkan buku yang sama dalam versi Bahasa Inggris dengan judul It’s Time for the World to Change.

Ia melihat konspirasi yang dilakukan negara adikuasa dengan cara mencari kesempatan dalam kesempitan pada penyebaran virus flu burung. Mereka mengambil sample virus dengan dalih riset dari negara negara yang terkena epindemik ini, lalu membuat vaksin dan menjualnya secara mahal ke seluruh dunia tanpa izin, tanpa kompensasi.
Mereka mencari keuntungan dengan menjual vaksin kepada negara negara yang justru terkena wabah ini.

Dalam bukunya Fadilah dengan mengatakan, Pemerintah AS dan WHO berkonpirasi mengembangkan senjata biologi dari penyebaran virus avian H5N1 atau flu burung dengan memproduksi senjata biologi. Karena itu pula, bukunya dalam versi bahasa Inggris menuai protes dari petinggi WHO.

“Kegerahan itu saya tidak tanggapi. Kalau mereka gerah, monggo mawon. Betul apa
nggak, mari kita buktikan. Kita bukan saja dibikin gerah, tetapi juga kelaparan
dan kemiskinan. Negara-negara maju menidas kita, lewat WTO, lewat Freeport , dan
lain-lain. Coba kalau tidak ada kita sudah kaya
,” ujar srikandi ini.

Perlawanan Siti Fadilah dimulai ketika virus flu burung menelan korban di Indonesia pada 2005. Ia kelabakan mencari obat. Namun aneh, obat tersebut justru diborong negara-negara kaya yang tak terkena kasus flu burung. Ini tidak adil, negara-negara lemah yang terkena tidak memperoleh apa-apa. Untung saja ada bantuan dari India, Thailand, dan Australia.

Korban terus berjatuhan. Di saat itu pula, dengan alasan penentuan diagnosis, badan kesehatan dunia (WHO) melalui WHO Collaborating Center (WHO CC) di Hong Kong memerintahkannya untuk menyerahkan sampel spesimen. Siti Fadilah merasa ada suatu yang aneh. Ia terbayang korban flu burung di Vietnam. Sampel virus orang Vietnam yang telah meninggal itu diambil dan dikirim ke WHO CC untuk dibuat vaksin. Ironisnya, pembuat vaksin itu adalah perusahaan-perusahaan besar dari negara maju, negara kaya, yang tak terkena flu burung.

Siti Fadilah marah. Ia merasa kedaulatan dan martabat negara-negara tak mampu telah dipermainkan atas dalih Global Influenza Surveilance Network (GISN) WHO. Badan ini sangat berkuasa dan telah menjalani praktik selama 50 tahun. Mereka telah memerintahkan lebih dari 110 negara untuk mengirim spesimen virus flu ke GISN tanpa bisa menolak. Virus itu menjadi milik mereka, dan mereka berhak memprosesnya menjadi vaksin.

Di saat keraguan atas WHO, Siti Fadilah mengetahui bahwa para ilmuwan tidak dapat mengakses data sequencing DNA H5N1 yang disimpan WHO CC. Data itu, uniknya, disimpan di Los Alamos National Laboratoty di New Mexico, AS. Di sini, dari 15 grup peneliti hanya ada empat orang dari WHO, selebihnya tak diketahui. Los Alamos ternyata berada di bawah Kementerian Energi AS yang biasa merancang bom atom. Lalu untuk apa data itu, untuk vaksin atau senjata kimia?

Siti Fadilah tak membiarkan situasi ini. Ia minta WHO membuka data itu. Data DNA virus H5N1 harus dibuka, tidak boleh hanya dikuasai kelompok tertentu. Ia berusaha keras. Dan, berhasil. Pada 8 Agustus 2006, WHO mengirim data itu. Ilmuwan dunia yang selama ini gagal mendobrak ketertutupan Los Alamos, memujinya. Majalah The Economist menyebut peristiwa ini sebagai revolusi bagi transparansi .

Tidak berhenti di situ. Siti Fadilah terus mengejar WHO CC agar mengembalikan 58 virus asal Indonesia, yang konon telah ditempatkan di Bio Health Security, lembaga penelitian senjata biologi Pentagon. Ini jelas tak mudah. Tapi, ia terus berjuang hingga tercipta pertukaran virus yang adil, transparan, dan setara. Ia juga terus melawan: tidak lagi mau mengirim spesimen virus yang diminta WHO, selama mekanisme itu mengikuti GISN, yang imperialistik dan membahayakan dunia.

Dan, perlawanan itu tidak sia-sia. Meski Siti Fadilah dikecam WHO dan dianggap menghambat penelitian, namun pada akhirnya dalam sidang Pertemuan Kesehatan Sedunia di Jenewa Mei 2007, International Government Meeting (IGM) WHO di Jenewa November lalu, sharing virus disetujui dan GISN dihapuskan. Ia telah membuat sejarah dunia dengan mampu memaksa Amerika dan WHO merubah kebijakan fundamentalnya yang dilakukan selama hampir 50 tahun.

Amerika dan WHO yang kebakaran jenggot dengan peluncuran buku Fadilah versi bahasa Inggris, konon menekan Pemerintah RI untuk menarik buku Fadilah, dengan imbalan kompensasi peralatan suku cadang militer yang selama ini diembargo. Presiden SBY memang sudah menemui Menterinya. Tidak tahu apa yang dibicarakan.

Hanya kita menyayangkan jika seorang SBY harus menjadi perpanjangan tangan Amerika untuk menekan perjuangan Fadilah.

Ia menjadi srikandi yang memperjuangkan keadilan, dan kesetaraan bagi sebuah bangsa yang harus bangkit dari keterpurukan. Bangsa ini harus berani ‘ berdikari ‘ lepas dari penjajahan baru bangsa asing. Jaman Bung Karno dulu ada slogan Berdikari – Berdiri di atas kaki sendiri, dengan maknanya : Berdaulat dalam politik, mandiri dalam ekonomi dan berkepribadian dalam kebudayaan.

Sampai sekarang konsep berdikari masih relevan. Dan Siti Fadilah Supari memberi makna yang lebih dalam, bahwa kita jangan mau dibodohi oleh Amerika.

Seharusnya Presiden Jangan Buat Rakyat Takut

detikcom - Jumat, 4 Desember 2009

Pernyataan Presiden SBY mengenai akan munculnya gerakan sosial pada 9 Desember bertepatan dengan Hari Antikorupsi Internasional disayangkan. Semestinya sebagai kepala pemerintahan, SBY mengambil sikap yang menenangkan rakyat.

"Kalau Presiden ngomong gitu, itu membuat rakyat takut. Seharusnya Presiden kalau data tidak ada fakta jangan menakut-nakuti rakyat," ujar pengamat kebijakan publik Prof Dr Sofyan Effendi melalui telepon, Jumat (4/12/2009).

Sofyan yang juga mantan Rektor UGM ini menjelaskan, dia sejak 2 minggu lalu juga sudah mendapatkan SMS dan mendengar rumor akan terjadi sesuatu pada 9 Desember. Tapi menurutnya hanya sebatas itu saja.

"Sudah banyak SMS beredar seperti itu. Katanya ada pembunuhan politik dan sebagainya. Selayaknya SBY tidak membicarakan itu karena dengan berbicara itu berarti membenarkan isi SMS itu," jelasnya.

Presiden seharusnya mengambil sikap bijak dengan menenangkan rakyat. "Ya kalau pun isu itu ditengarai benar, jangan Presiden yang berbicara. Tapi ini kan baru rumor, ngapain Presiden yang ngomong," kritiknya.

Apa kira-kira motif pengungkapan warning itu? "Ya mungkin saja itu bagian dari strategi meraih simpati publik," jawab Sofyan.

Sofyan yakin rumor gerakan 9 Desember hanya isapan jempol saja. "Saya pernah tanya kepada orang yang tahu proses seperti itu dan informasinya tidak akan sampai pada kerusuhan besar-besaran. Bangsa ini sudah cukup menderita. Lebih baik selesaikan saja perkara yang sudah jelas seperti kasus Anggodo Widjojo dan Century," tutupnya.

Kisah Sapaan "Anggota Hewan yang Terhormat..."

Kamis, 3 Desember 2009 | 11:20 WIB
Laporan wartawan Kompas Syahnan Rangkuti

PEKANBARU, KOMPAS.com — Entah apa yang terlintas di benak Kepala Satuan Lalu Lintas Kepolisian Resor Indragiri Hulu Ajun Komisaris Tri Laksono saat menyosialisasikan Undang-Undang Lalu Lintas di depan segenap anggota DPRD Kabupaten Indragiri Hulu (Inhu) di Rengat, Riau, Rabu (2/12) siang. Di sela-sela paparannya, beberapa kali Tri menyebutkan kata-kata "anggota hewan yang terhormat" kepada anggota Dewan yang biasa disebut terhormat itu.

Pada saat penyebutan pertama, meski terdengar samar-samar, sebagian anggota Dewan masih menganggap hal itu hanya kekhilafan Tri semata. Namun, ucapan itu kembali diucapkan berulang-ulang dalam beberapa kesempatan berbeda.

Ketika sesi tanya jawab dimulai, Ivan Rivky dari Partai Gerinda langsung mengingatkan Tri agar meminta maaf atas penyebutannya yang dianggap menghina anggota Dewan. Hanya saja, saat menjawab pertanyaan Ivan, Tri tidak meminta maaf dan malah dia kembali menyebutkan kata-kata "anggota hewan yang terhormat" tanpa merasa bersalah.

Ivan langsung menggebrak meja dan meninggalkan ruang sidang paripurna. Juanda, juga anggota DPRD Inhu, mengambil sikap serupa dengan membanting papan nama ke depan. Di bagian belakang, beberapa anggota Dewan membanting gelas hingga pecah berantakan. Sidang yang dipimpin Wakil Ketua DPRD Inhu Zaharman akhirnya berubah kacau dan sebagian besar anggota Dewan meninggalkan ruangan. Tri akhirnya meminta maaf atas ucapannya, tetapi permintaan maafnya tidak lagi mampu meredakan suasana. Sidang berakhir antiklimaks.

Kepala Polres Inhu Ajun Komisaris Besar Hermansyah langsung tanggap atas kejadian memalukan di gedung Dewan itu. Satu jam kemudian, dengan didampingi beberapa petinggi Polres, Hermansyah menemui Ketua DPRD Inhu Marpoli untuk meminta maaf. Hermansyah mengatakan, kasus itu sudah disampaikannya kepada Kepala Polda Riau Brigjen Adjie Rustam Ramdja di Pekanbaru.

Marpoli menerima permintaan maaf itu dan meminta kejadian itu tidak terulang lagi. Dia meminta polisi menghargai lembaga Dewan.

Hanya saja, Ivan yang dihubungi pada Kamis mengatakan, secara pribadi anggota Dewan, termasuk dirinya, sudah menerima permintaan maaf Kapolres Inhu Hermansyah dan Kasatlantas Tri Laksono. Namun, karena Tri juga melakukan pelecehan terhadap institusi DPRD, secara institusi pula, anggota Dewan akan meminta pertanggungjawaban dari Kapolda Riau selaku atasan langsung Tri yang dapat menghukum yang bersangkutan.

"Secara lisan, dalam pertemuan dengan Kapolres, kami sudah meminta agar Kasatlantas itu dipindahkan dari Inhu. Secara tertulis, hari ini kami menyiapkan surat protes keras kepada Kapolda Riau. Kami tetap akan meminta dia angkat kaki dari Inhu," tandas Ivan.

SEJARAH PENINDASAN PEREMPUAN

Oleh : Agung Nugroho

“Tulisan ini kupersembahkan untuk kaum perempuan sedunia, yang telah banyak berjasa dalam merubah peradaban manusia. Dan juga untuk seluruh kaum perempuan Indonesia yang sedang terus berjuang merebut kembali hak-haknya”

Pengatar

Berbicara tentang penindasan perempuan, memang penuh dengan kontrovesi. Banyak kalangan yang masih terhegemoni pemikiran superioritas laki-laki menganggap bahwa bukanlah penindasan jika perempuan diletakkan pada kodratnya. Sementara dikalangan yang memiliki pemikiran egaliter, menganggap bahwa persoalan kodrat tidaklah mengharuskan posisi perempuan menjadi tertindas.

Tulisan ini dimaksud untuk meluruskan cara pandangan kita terhadap posisi perempuan, tulisan ini tidak serta merta membela secara membabi-buta tanpa melihat dari akar sejarah dari mana awal ketertindasan perempuan.

Sejarah Perkembangan Masyarakat, Menemukan Akar Awal Penindasan Perempuan

Peradaban manusia dibumi tidak serta merta langsung berbentuk peradaban maju, fase peradaban manusia sejalan dengan sejarah perkembangan masyarkat yang pernah terjadi di bumi ini.

Sebelum muncul peradaban yang saat ini sesuai dengan perkembangan masyarakat yang juga terjadi saat ini. Sebelumnya dilalu oleh berbagai fase perkembangan masyarakat, yaitu :
1.Jaman Komunal Primtif Nomaden
2.Jaman Pertanian Kolektiv Primitif
3.Jaman Perbudak
4.Jaman Industri

1.Jaman Komunal Primitif

Pada jaman ini kehidupan manusia masih bersifat kolektif, dimana pembagian tugas belum mengenal pemisahan berdasarkan gender (jenis kelamin) pembagian tugas baru berdasarkan fungsi saja. Laki - perempuan, tua - muda, semua memiliki tugas yang sama. Yaitu berburu, jaman ini tidak mengenal pengecualian. Mereka yang tak mampu ikut berburu tidak akan mendapat makan, mereka yang lemah baik laki-laki atau perempuan, perempuan-perempuan yang sedang mengandung atau melahirkan akan ditinggal kelompoknya yang hidup berpindah dari satu hutan ke hutan lain untuk mencari sumber makan.

Mereka-mereka yang ditinggal oleh kelompoknya banyak yang tak dapat bertahan hidup, tentu timbul pertanyaan mengapa begitu kejam jaman ini ? betul hal ini dianggap kejam jika kita melihat dari sisi norma yang ada dijaman kita saat ini. Namun apa yang mereka lakukan saat itu sebatas untuk tidak terdapatnya beban kolektif, meningat apda saat itu belum ditemukannya tekhnologi. Mereka masih mengunakan dengan langsung apa yang mereka didapat dari alam, batu, kayu, dan bekas tulang-tulang binatang. Belum lagi alam yang mereka hadapi saat itu, yang masih ganas dan liar, dimana bahan makan belum banyak tersedia. Sehingga jika mereka yang lemah dan tak dapat ikut berburu harus diberi makan, itu artinya mereka harus menambah beban mereka untuk memenuhi kebutuhan mereka dan dirinya.

Pada jaman ini tingkat kematian begitu tinggi, ini dapat dilihat dari bukti peninggalan yang terdapat dalam gua-gua purba yang ditemukan. Dimana terdapat banyak tulang-tulang fosil bayi. Lantas bagaimana dengan regenerasi pada saat itu ? bertahannya keturunan mereka lebih disebabkan oleh kekuatan phisik individu, perempuan-perempuan yang memiliki kelebihan dalam hal phisiklah yang mampu bertahan hidup baik dirinya maupun anak yang mereka lahirkan. Dengan menggendong dan sambil menyusui mereka tetap ikut berburu. Tangan kiri mengendong, tangan kanan memegang alat untuk membunuh binatang. Tradisi ini masih diwarisi sampai jaman sekarang dimana kaum ibu banyak menyusui anaknya disebelah kiri.


2.Jaman Pertanian Kolektiv Primitif

Dengan seringnya mereka yang lemah dan perempuan hamil dan menyusui yang tak dapat ikut berburu ditinggal oleh kelompoknya. Lambat laun dari generasi ke generasi mereka mulai dapat beradaptasi dengan lingkungannya untuk dapat bertahan hidup. Disini mereka para perempuan menemukan sitim pertanian primitif dan peternakan primitif.

Mereka melihat biji sisa makanan yang merea makan, lama kelamaan bias tumbuh kecambah dan terus tumbuh menjadi pohon, berbunga dan berbuah. Mereka juga mencoba mejinakan hewan-hewan kecil yang dapat dipelihara dan dimakan. Dan akhirnya muncul-lah pertanian dan peternakan yang ditemukan oleh kaum perempuan.

Pada jaman ini perempuan memegang peranan penting dalam upaya menjinakan dan mengelola alam. Pada jaman inilah juga mulai ditemukan baju dari kulit pohon, dan binatang, dan rumah dengan atap dedaunan, dan mata bajak.

Waktu yang terus berputar, membuat kelompok yang dulu meninggalkan mereka kembali ke hutan tempat mereka dulu meninggalkan anggota kelompoknya yang tak dapat ikut berburu. Begitu mereka lihat bahwa anggota kelompoknya yang dulu mereka tinggal dapat bertahan hidup, maka lahirlah kehidupan baru dari yang semula nomaden menjadi maden atau menetap. Bravo ! untuk kaum perempuan yang berhasil merubah peradaban !! Salute…untuk mereka yang begitu struggle menghadapi hidup..!!

Dijaman ini pertanian dikerjakan secara kolektif, belum ada pembagian tugas berdasarkan gender, sama halnya dengan jaman komunal primitif. Dijaman inipula mulai ditemukan pengobatan dan mulai munculnya orang yang berprofesi dukun. ikatan darah pada saat ini masih mengikuti ibunya.

3.Jaman Perbudakan

Jaman pertanian kolektif primitif berlangsung hingga ribuan tahun, berkembang dan berkembang hingga munculah spesialisasi dalam masyarakat. Dimana dengan muali adanya tekhnologi, pemikiran manusia mulai berkembang. Mereka-mereka yang memiliki keahlian khusus dalam membuat alat, mulai meninggalkan pertanian. Dan hanya menukar alat yang mereka buat dengan hasil pertanian.

Pada akhirnya munculah ikatan yang dinamakan keluarga (Family), mereka yang memiliki anggota keluarga yang banyak otomatis memiliki hasil tani yang lebih banyak pula. Sementara mereka yang sedikit jumlah anggota keluarganya hanya memiliki sedikit hasil taninya.

Perubahan alam yang membuat para keluarga yang memiliki hasil tani sedikit mulai kekurangan ahan pangan. Sehingga mau tidak mau meminjam dari keluarga yang memiliki jumlah anggota yang banyak. Disinilah mulai muncul yang namanya hutang piutang. Mereka yang tak sanggup membayar hutang, maka lahan tanah dan alat produksinya disita oleh yang menghutang, sementara dirinya menjadi hamba untuk menggarap tanah bekas milikinya. Maka lahirlah jaman perbudakan…

Dijaman perbudakaan inilah, posisi kaum perempuan mulai bergeser, dari yang tadinya ikut berperan secara ekonomi dan politik. Peran perempuan sedikit demi sedikit mulai bergeser menjadi pekerja domestik (mengerjakan pekerjaan rumah tangga), walu masih terdapat sebagaian kecil perempuan yang masih memegang peranan secara ekonomi dan politik, namun sudah semakin kecil.

Dijaman perbudakan mulai muncul perbedaan gender, dimana perempuan lebih murah harganya ketimbang budak laki-laki. Dijaman ini pula para budak yang hendak menikahi budak perempuan maka wajib menyerahkan terlebih dulu calon istrinya kepada tuan budak untuk ditiduri. Pada jaman perbudakaan inilah mulai muncul kasta dalam kehidupan masyarakat. Mereka yang memiliki budak terbanyak menjadi pemimpin.

4.Jaman Feodal / Pertanian Modern

Pertentangan yang semakin kuat antara para budak dan tuan budak melahirkan revolusi kaum budak atau yang disebut “pemberontakan budak”. Dengan merdekanya para budak, berubalah system masyarakat, dari perbudakaan menjadi feodal. Mereka yang memiliki tanah pertanian mau tidak mau berkompromi untuk memberlakukan sistim upah.

Dijaman feodal ini posisi perempuan benar-benar tergeser dan masuk kedalam lembah pekerjaan domestic. Dijaman ini pulalah garis keturunan berubah jadi mengikuti bapak. Jaman ini juga disebut jaman patriakal, dimana dominasi laki-laki terhadap perempuan menjadi penuh. Dijaman ini lahir satu kaum yaitu kaum pedagang.

Dijaman ini perempuan tak ubahnya sebuah barang, yang hanya digunakan sebagai pemanis dan kejayaan kaum laki. Siapa yang banyak memiliki istri, merekalah yang dianggap berjaya dan terhormat. Sementara di posisi kaum perempuan sering terjadi tekanan batin, karena harus menghadapi kawin paksa.

Belum lagi ketika sudah bersuami mereka harus siap dimadu dengan istri-istri baru suaminya. Praktis dijaman feodal ini perempuan hanya diserahi tiga tugas yaitu : Sumur, Kasur dan Dapur. Padangan terhadap kaum perempuan pun semakin rendah mereka dianggap sebagai kaum yang lemah, dan harus diberi perlindungan oleh kaum laki-laki. Perekonomian, perdagangan, ilmu pengetahuan adalah hak kaum laki, memasak, urus anak, dan bersih-bersih rumah menjadi hak kaum perempuan.

5.Jaman Industri

Jaman feudal tumbang akibat berlangsungnya pemberontakan kaum buruh tani, yang ditunggangi oleh kaum pedagang yang merasa hak-haknya terlalu terbatas terhadap hak-hak para raja dan bangsawan. Pemberontakan ini mulai mengkikis hak-hak para raja dan bangsawan. Tumbangnya jaman feudal berganti dengan jaman industri, dimana semakin maju ketika ditemukannya mesin uap.

Namun perubahan ini tetap tidak dapat membebaskan peran perempuan, dimana para pengusaha masih melestarikan budaya feudal yang berlaku terhadap kaum perempuan. Diskriminai terhadap kaum perempuan semakin nyata, walaupun mereka menghargai persamaan hak namun diskriminasi berdasarkan gender masih berlangsung. Upah pekerja perempuan lebih murah, hak cuti hamil tidak diberikan, pekerjaan domestic masih menjadi lahan perempuan.

Sampai akhirnya terjadi gelombang aksi besar-besaran pada bulan maret tanggal 8, dimana kaumperempuan Amerika menuntut persamaan hak tanpa batas terhadap diri mereka. Maka lahirlah hari perempuan sedunia yang selalu diperingati setiap tanggal 8 Maret.

Kondisi Kaum Perempuan Saat ini

Walaupun keberhasilan telah dicapai, namun dibelahan bumi lainnya terutama di negera berkembang. Dimana sisa-sisa kekuasaan dan tradisi feudal masih berlangsung. Posisi perempuan tidak menjadi lebih baik, persamaan hak walau sudah didapat tapi masih terus diperdebatkan. Pelecehan terhadap perempuan masih tinggi, pandangan terhadap perempuan masih sebtas pandangan sebagai obyek seksual laki-laki.

Akankah lahir kembali sebuah pemberontakan yang membuat kaum perempuan terbebas dari segala sekat perbedaan gender ? alam dengan roda sejarahnya yang akan menjawab. Tinggal kepada mereka yang merasa memiliki peradaban tinggi, sudah seharusnya merubah cara pandang kita terhadap kaum perempuan. Kodrat alamiah perempuan hanya satu yaitu dapat melahirkan, tapi kodrat almiah tersebut rasanya kurang bijak jika kita tetap merendahkan peran perempuan, mengingat merekalah kaum yang pertama kali merubah wajah dunia. Atau kita masih ingin melanggengkan tradisi dan budaya jman perbudakaan ? lantas dapatkah kita mengklaim bahwa diri kita adalah orang yang memiliki peradaban yang tinggi ?

SBY : Akan Ada Gerakan Sosial Berbalut Isu Anti Korupsi Pada 9 Desember Nanti !

sfur, 05 Desember 2009

Presiden Sby menyikapi secara reaksioner terhadap rencana aksi beberapa elemen pada tanggal 09 Desember nanti, hari dimana jatuh sebagai hari anti korupsi sedunia. Dalam statementnya dia mengatakan "Saya mendukung upaya membuka selebar-lebarnya terhadap kasus Century agar rakyat dapat benar-benar memahami kasus tersebut. Namun ada juga dibeberapa kelompok yang mengunakan isu tersebut bukan sebatas untuk memenuhi keingintahuan rakyat terhadap kasus Century tapi memiliki muatan politis yang bermuara pada gerakan sosial"

Entah apa yang dimaksud gerakan sosial oleh Sby, namun dengan tegas dibantah oleh Fazrul Rahman dari KOMPAK dalam pernyataannya di Indosiar "Tidak benar, jika tanggal 09 Desember nanti itu kami akan melakukan geraan makar....SBY harus meminta maaf atas tuduhan yang mereka lontarkan tersebut. Karena apa yang dilakukan oleh kami adalah sebuah aksi damai dalam memperingati hari Anti Korupsi Sedunia..."

Sementera Haris Rusli Mothy dari FKPI menyatakan melalui telpon "Ini sebagai bukti Sby takut dengan gerakan massa, dimana dia berusaha meredam gerakan massa tanggal 09 Desember nanti dengan melontarkan tuduhan adanya gerakan sosial yang akan menjatuhkan dia"

Menurut isu yang berkembang dikalangan istana, memang sejak kasus Century ramai dikonsumsi publik. Presiden Sby akhir-akhir ini sering terlihat panik. Ada apa mr. president...? (an)

DISKUSI MINGGUAN DKR

Jakarta, 04 desember 2009
20:00 wib


Diskusi mingguan yang diadakan oleh Dewan Kesehatan Rakyat (DKR) Indonesia bertempat di kediaman Siti Fadillah berlangsung dengan seru. Menampilkan pembicara Siti Fadillah sendiri yang banyak menyoroti persoalan kebangsaan yang sesekali diselingin dengan kisah pengalaman beliau saat menjadi menkes RI.

"Saat ini kita semakin dikangkangi oleh sistem ekonomi neo-lib, sehingga yang diperlukan saat ini adalah sebuah perubahan sistem dan bukan sebatas reformasi birokrasi. Karena reformasi birokrasi itu hanya menguntungkan kaum pemodal yang neo-lib " demikian ujar Siti Fadillah.

"Ideologi NASIONALISME harus kembali ditanamkan kepada rakyat, agar negara ini memiliki pertahanan dan ketahanan dengan melibatkan partisipasi aktif rakyat yang memiliki kesadaran..."

"Kita harus mengorganisir, dan menjadi penyambung kesadaran ke rakyat....untuk membangun kesadaran tersebut....."

Diskusi sendiri berakhir tepat pukul 22.00 wib, yang ditutup dengan pesan dari Siti Fadillah " Kalian yang muda-muda ini harus semangat ! Semangat, dalam membela kepentingan rakyat. Agar kita bisa benar-benar menjadi bangsa merdeka yang berdaulat, dan bangsa berdaulat yang merdeka....!"