Effendy Ghazali, salah seorang penggagas GIB, di kantor PBNU, Jakarta, Kamis (3/12/2009), menyatakan, aksi damai itu akan digelar serentak di sejumlah kota.
Di Jakarta aksi dipusatkan di lapangan Monumen Nasional (Monas) melibatkan puluhan ribu orang.
”Kami minta maaf kalau ada yang terganggu,” ujar Effendy saat menyampaikan keterangan pers bersama sejumlah aktivis GIB, antara lain Ali Mochtar Ngabalin, Adhie M Massardi, Zaenal Bintang, Djoko Edhi Abdurrahman, Hatta Taliwang, Usman Hamid, dan M Rodli Kaelani.
Menurut Dia, GIB juga mendapat dukungan dari sejumlah tokoh nasional seperti KH Hasyim Muzadi, Din Syamsuddin, Kardinal Darmaatmadja, Pdt AA Yewangoe, Buya Syafii Maarif, dan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Mereka akan menandatangani Piagam Indonesia Bersih.Adhie M Massardi menambahkan, GIB merupakan gerakan damai yang dibentuk oleh masyarakat yang menginginkan Indonesia bersih dari kasus korupsi, termasuk kasus Bank Century.
”Gerakan kita tanpa fitnah tanpa kekerasan. Kita gerakan keagamaan dan kebersihan,” jelas juru bicara kepresidenan di era Presiden Gus Dur itu.
Ketua Umum PB PMII M Rodli Kaelani mengatakan, sebagai gerakan massa, GIB diharapkan bisa bertambah besar dan bisa mengimbangi upaya DPR dalam mengusut kasus Bank Century.
SBY Curigai Aksi Damai Gerakan AntikorupsiMenanggapi rencana aksi damai Hari Antikorupsi Internasional tanggal 9 Desember yang diprakarsai oleh Gerakan Indonesia Bersih (GIB), Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menuding ada pihak-pihak yang mempunyai motif politik. Aksi damai GIB ini yang akan digelar besar-besaran yang dipusatkan di lapangan Monas Jakarta ini didukung oleh para tokoh nasional dari berbagai agama.
Tak ada angin, tak ada hujan, tiba-tiba Presiden SBY memberi peringatan akan ada gerakan sosial pada 9 Desember di Jakarta. Dia menengarai akan ada gerakan dari sejumlah pihak yang bermotif politik dengan berbalut Hari Antikorupsi Internasional yang jatuh pada hari itu.
“Saya juga mendapatkan informasi bahwa 9 Desember akan ada gerakan-gerakan sosial,” kata SBY saat memberikan pengantar dalam rapat paripurna kabinet di Istana Negara, Jl Medan Merdeka Utara, Jakarta, Jumat (4/12/2009).
SBY menjelaskan, sebagian dari gerakan itu memang ingin memperingati Hari Antikorupsi Internasional, namun kemudian ada gerakan lain yang menumpangi.
SBY seharusnya mendukung gerakan antikorupsi yang akan berlangsung besar-besaran pada 9 Desember nanti, bukannya malah mencurigainya…
“Mungkin saja akan muncul tokoh-tokoh pada 9 Desember, yang selama 5 tahun lalu tidak pernah saya lihat kegigihannya dalam memberantas korupsi mungkin akan tampil. Ya selamat datang kalau memang ingin betul memberantas korupsi bersama-sama. Dengan demikian akan membawa manfaat bagi rakyat,” ujar SBY.
SBY menegaskan selama 5 tahun, dia telah berjuang melakukan pemberantasan korupsi. “Satu kepedulian, komitmen bahwa kita harus menyukseskan langkah pemberantasan korupsi. Tapi ada yang juga motifnya bukan itu. Tapi motif politik yang sesungguhnya tidak senantiasa atau selalu terkait dengan langkah pemberantasan korupsi,” urainya.
Tanggapan berbagai kalangan atas kecurigaan presiden SBY
Komentar SBY itu justru kontraproduktif, karena tidak layak ketakutan-ketakutan akan adanya kepentingan lain di luar kepentingan pemberantasan korupsi diucapkan. Apalagi oleh seorang kepala negara.
“Tidak etis bagi Presiden menuduh ada motif politik,” kata pengamat politik dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Syamsudin Haris, Sabtu (5/12/2009).
Komentar SBY yang terkesan ‘mendahului takdir’ ini dianggap sebagai bentuk paranoid politik, ketakutan-ketakutan yang sebenarnya tidak diperlukan.
“Bisa saja disebut paranoid politik,” jelas Syamsudin.
Syamsuddin menambahkan, SBY seharusnya mendukung gerakan antikorupsi yang akan berlangsung besar-besaran pada 9 Desember nanti, bukannya malah menuding ada kepentingan politik di balik demo yang rencananya akan dihadiri 100 ribu orang tersebut.
Itu bukan statement seorang negarawan. Mencari-cari kambing hitam, itu kan gaya-gaya Soeharo pada masa Orde Baru dulu…
“Mestinya aksi 9 Desember tersebut direspon dengan positif oleh Presiden. Itu kan dukungan langsung kepada SBY yang katanya komitmen terhadap pemberantasan korupsi,” kata Syamsudin.
Syamsudin menyayangkan komentar Presiden tersebut. Menurutnya, bagaimana pun pemberantasan korupsi adalah kebutuhan obyektif bangsa Indonesia.
“Jadi tidak etis bagi Presiden menuduh ada motif politik, ada agenda politik segala macem. Padahal sama sekali tidak ada indikasi ke arah situ,” sesal Syamsudin.
Menurut Syamsudin, sekali lagi, ucapan-ucapan seperti ini tidak perlu keluar dari mulut seorang Presiden.
“Itu bukan statement seorang negarawan. Mencari-cari kambing hitam, itu kan gaya-gaya Soeharo pada masa Orde Baru dulu,” sindirnya menutup pembicaraan.
Seperti diberitakan sebelumnya, gerakan sejumlah tokoh bangsa dan elemen masyarakat pada 9 Desember itu tergabung dalam Gerakan Indonesia Bersih (GIB). GIB akan menggelar peringatan Hari Anti Korupsi Sedunia dengan aksi damai yang dipusatkan di Monas.
sementara itu menurut pengamat Intelijen Wawan Purwanto :
“Itu merupakan early warning supaya pihak-pihak tidak terpancing, agar tidak mudah diadu domba terhadap isu apapun,”
Menurut Wawan, wacana munculnya aksi seperti yang disebut oleh SBY bukanlah isapan jempol belaka. Dalam berbagai kesempatan seminar yang dihadiri, ia juga sering mendengar informasi seperti itu.
“Ada suara-suara yang mau bikin gerakan, ada LSM, mahasiswa, anak muda, mereka menyuarakan seperti itu, sudah bukan rahasia lagi,” paparnya.
Wawan menduga, ada pihak-pihak yang mencoba menjadikan gerakan tersebut untuk agenda tersendiri. Sebab gerakan tersebut, muncul bertepatan dengan hadirnya isu Bank Century serta pansus di DPR. Wawan berharap agar aksi yang nantinya akan dilakukan tidak melenceng dari agenda semula.
sumber :http://answering.wordpress.com/2009/12/05/ada-apa-dengan-demo-anti-korupsi-9-desember-2009/

Tidak ada komentar:
Posting Komentar